Beberapa tahun terakhir, dunia teknologi diramaikan oleh berbagai istilah baru dalam kecerdasan buatan. Setelah masyarakat mulai akrab dengan ChatGPT dan Generative AI, kini muncul dua istilah yang sering dibahas para praktisi teknologi: Edge AI dan Agentic AI.
Jika diibaratkan manusia, Edge AI dan Agentic AI memiliki kepribadian yang sangat berbeda.
Edge AI adalah tipe pekerja yang tidak suka rapat terlalu lama. Ketika ada pekerjaan, ia langsung mengerjakannya di tempat tanpa harus bertanya ke kantor pusat. Sementara Agentic AI adalah sosok manajer proyek yang tidak hanya bekerja, tetapi juga mampu merencanakan, mengambil keputusan, menyusun strategi, bahkan mengatur tim untuk mencapai tujuan tertentu.
Edge AI: “Saya Kerjakan Sendiri di Sini”
Selama ini banyak sistem AI bergantung pada cloud. Ketika kamera, sensor, atau smartphone menangkap data, informasi tersebut dikirim ke server untuk diproses terlebih dahulu sebelum menghasilkan keputusan.
Masalahnya, proses ini membutuhkan waktu dan koneksi internet yang stabil.
Di sinilah Edge AI hadir. Teknologi ini memungkinkan AI berjalan langsung di perangkat seperti kamera, drone, kendaraan, smartwatch, atau sensor IoT tanpa harus menunggu cloud.
Bayangkan kamera keamanan yang dapat langsung mengenali orang mencurigakan, atau drone yang bisa menghindari rintangan secara real-time tanpa menunggu instruksi dari server.
Singkatnya, filosofi Edge AI adalah:
“Kalau bisa diproses sekarang, kenapa harus menunggu cloud?”
Agentic AI: “Tenang, Biar Saya yang Urus”
Berbeda dengan Edge AI yang fokus pada kecepatan pemrosesan, Agentic AI berfokus pada kemampuan berpikir dan bertindak secara mandiri.
Agentic AI tidak hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga mampu:
- Menentukan langkah kerja sendiri.
- Menyusun rencana.
- Mengambil keputusan.
- Berkolaborasi dengan agen lain.
- Menyesuaikan strategi ketika kondisi berubah.
Jika chatbot biasa hanya menjawab “Apa yang ingin Anda lakukan?”, maka Agentic AI bisa berkata:
“Saya sudah menganalisis masalahnya, membuat rencana, menghubungi sistem terkait, dan menyelesaikannya.”
Karena itulah banyak pakar menyebut Agentic AI sebagai langkah berikutnya setelah Generative AI.
Jadi Mana yang Lebih Hebat?
Jawabannya: keduanya tidak sedang bersaing, melainkan saling melengkapi.
Edge AI unggul dalam situasi yang membutuhkan respons sangat cepat seperti:
- Kendaraan otonom
- Smart city
- Monitoring kesehatan
- Sistem keamanan
- Internet of Things (IoT)
Sementara Agentic AI lebih unggul pada pekerjaan yang membutuhkan:
- Perencanaan
- Pengambilan keputusan kompleks
- Otomasi proses bisnis
- Manajemen tugas
- Kolaborasi multi-agent
Masa Depan: Agentic AI yang Tinggal di Edge
Para peneliti memprediksi masa depan AI justru berada pada kombinasi keduanya.
Bayangkan sebuah drone pemantau bencana yang mampu:
- Memproses data langsung di lokasi (Edge AI).
- Menganalisis situasi secara mandiri.
- Menentukan rute terbaik.
- Berkoordinasi dengan drone lain.
- Mengirim laporan otomatis ke petugas.
Itulah gambaran Agentic Edge AI, yaitu AI yang tidak hanya cepat karena berada dekat sumber data, tetapi juga cerdas karena mampu mengambil keputusan sendiri.
Dari Cloud ke Pinggir Jalan
Jika dulu AI selalu identik dengan pusat data raksasa dan server cloud, kini kecerdasan buatan mulai berpindah ke perangkat-perangkat kecil yang ada di sekitar kita.
Dan jika dulu AI hanya menunggu instruksi manusia, kini Agentic AI mulai belajar menjadi “rekan kerja digital” yang dapat berpikir dan bertindak secara mandiri.
Mungkin beberapa tahun lagi, bukan hanya manusia yang punya inisiatif bekerja. Smartphone, kamera, mobil, hingga kulkas di rumah kita pun bisa ikut mengambil keputusan sendiri.
Semoga saja keputusan mereka tidak dimulai dengan kalimat:
“Saya sudah menganalisis kondisi keuangan Anda. Demi efisiensi, pesanan kopi hari ini saya batalkan.”
Related Posts

Mahasiswa Sains Data Kembangkan Chatbot AI Wisata Anggur, Liburan Jadi Tinggal Tanya!

BTS Pojok Statistik Hadir! Kupas Tuntas Pertumbuhan Ekonomi Banyumas Lewat Data, Bukan Katanya

Mahasiswa Sains Data Kembangkan Visage Matrics, Solusi AI untuk Deteksi Mata Lelah Saat Belajar dan Bekerja

Mahasiswa Sains Data Telkom University Purwokerto Kembangkan AI untuk Pantau Gizi Program MBG

Edge AI: Ketika Kecerdasan Buatan Tidak Lagi Menunggu Cloud
